Semangat Khidmah dari Takerharjo: Dua Bus Nahdliyin Hadiri Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas
NU Ranting Takerharjo 57× dibaca
TAKERHARJO, LAMONGAN — Semangat khidmah dan kecintaan kepada Nahdlatul Ulama mengantarkan keluarga besar NU Ranting Takerharjo, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, untuk turut hadir dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Dengan penuh antusiasme, rombongan berangkat menggunakan dua bus yang diikuti oleh keluarga besar NU Ranting Takerharjo, terdiri atas para bapak-bapak NU, Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, serta Banser.
Bagi rombongan Takerharjo, perjalanan menuju Tambakberas bukan sekadar perjalanan menghadiri sebuah acara organisasi. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyaksikan secara langsung momentum penting dalam perjalanan jam'iyah Nahdlatul Ulama.
Muktamar ke-35 NU berlangsung di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Pembukaan dipusatkan di Lapangan Untung Suropati dan dimulai pada pukul 15.00 WIB.
Ziarah Menjadi Awal Perjalanan
Sebelum menuju lokasi Muktamar, rombongan NU Ranting Takerharjo mengawali perjalanan dengan berziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro.
Ziarah menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Di tengah perjalanan menuju momentum besar NU, rombongan terlebih dahulu menundukkan hati, mendoakan para ulama dan leluhur, serta memohon keberkahan dan kelancaran perjalanan.
Dari makam Syekh Jumadil Kubro, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dua tempat ziarah tersebut memberikan suasana spiritual tersendiri bagi seluruh rombongan. Perjalanan menuju Muktamar tidak hanya menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk mengenang jasa para ulama yang telah memberikan kontribusi besar bagi agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
Perjalanan Menuju Tambakberas Penuh Tantangan
Setelah menyelesaikan rangkaian ziarah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju lokasi Muktamar.
Namun, antusiasme untuk sampai ke arena pembukaan harus diiringi kesabaran. Karena padatnya arus kendaraan dan pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi Muktamar, bus yang membawa rombongan tidak dapat langsung menuju arena utama.
Sesuai pengaturan transportasi yang diberlakukan panitia dan pemerintah daerah, rombongan kemudian turun di sekitar Rumah Sakit Islam Jombang dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Jarak yang harus ditempuh kurang lebih 3 kilometer karena jalur menuju lokasi harus memutar dan menghindari titik-titik yang sangat padat, termasuk kawasan sekitar makam KH Abdul Wahab Hasbullah.
Bagi sebagian orang, perjalanan tersebut mungkin terasa melelahkan.
Namun bagi rombongan Takerharjo, justru di situlah semangat khidmah terasa.
Langkah demi langkah ditempuh.
Lelah menjadi bagian dari perjalanan.
Panas dan padatnya jalan menjadi pengalaman.
Namun semuanya dijalani dengan satu semangat:
"Kami ingin hadir. Kami ingin menjadi bagian dari sejarah NU."
Kondisi akses yang padat tersebut memang terjadi karena pembukaan Muktamar dihadiri ribuan Nahdliyin dan pengamanan diperketat. Panitia juga melakukan pensterilan sejumlah jalur untuk mengatur pergerakan peserta dan tamu undangan.
Akhirnya, Sampai di Lokasi Muktamar
Setelah menempuh perjalanan kaki sekitar tiga kilometer, akhirnya seluruh rombongan NU Ranting Takerharjo berhasil sampai di sekitar lokasi Muktamar.
Rasa lelah seketika terbayar dengan kebahagiaan.
Bisa hadir di Tambakberas.
Bisa melihat secara langsung ribuan Nahdliyin berkumpul.
Bisa menyaksikan semangat para ulama, kiai, santri, dan warga NU dari berbagai daerah.
Dan yang paling membahagiakan, rombongan dapat menyaksikan secara langsung pembukaan Muktamar ke-35 NU.
Tepat pada sore hari, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi membuka Muktamar ke-35 NU di Lapangan Untung Suropati Tambakberas dengan prosesi penabuhan beduk.
Momentum tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi seluruh rombongan.
Bukan Sekadar Hadir, tetapi Belajar tentang Khidmah
Bagi keluarga besar NU Ranting Takerharjo, perjalanan ini memberikan pelajaran yang sangat berharga.
Bahwa menjadi bagian dari NU bukan hanya tentang memiliki kartu anggota atau mengenakan seragam organisasi.
Tetapi juga tentang khidmah, kebersamaan, kesabaran, dan kesediaan untuk berjuang bersama.
Para bapak-bapak NU, Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU, dan Banser berjalan bersama dalam satu tujuan.
Tidak ada sekat antara generasi tua dan generasi muda.
Tidak ada perbedaan antara satu banom dengan banom lainnya.
Semuanya melebur dalam satu identitas:
Nahdliyin.
Perjalanan yang melelahkan justru semakin mempererat kebersamaan. Canda, lelah, langkah kaki, dan doa menjadi cerita yang kelak akan dikenang.
Bersyukur Menjadi Bagian dari Sejarah
Sesampainya di lokasi, rasa syukur menjadi ungkapan yang paling tepat.
Tidak semua warga NU memiliki kesempatan untuk hadir langsung dalam Muktamar. Karena itu, dapat menjadi bagian dari ribuan Nahdliyin yang berkumpul di Tambakberas merupakan sebuah kebanggaan sekaligus pengalaman spiritual dan organisatoris yang sangat berharga.
Rombongan NU Ranting Takerharjo pun menyampaikan rasa syukur karena seluruh peserta dapat mengikuti perjalanan dengan baik dan kembali dalam keadaan selamat.
Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa khidmah memang membutuhkan pengorbanan.
Kadang harus menempuh perjalanan jauh.
Kadang harus bersabar menghadapi kepadatan.
Kadang harus berjalan kaki.
Namun ketika niatnya untuk berkhidmah, lelah pun berubah menjadi kenangan yang indah.
Sebagaimana semangat para pendahulu NU:
berjuang bukan karena mudah, tetapi karena merasa perlu untuk hadir dan mengambil bagian.
Dari Takerharjo menuju Tambakberas, keluarga besar NU Ranting Takerharjo telah menorehkan satu pengalaman kecil dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama.
Sebuah perjalanan yang diawali dengan ziarah.
Dilanjutkan dengan perjuangan.
Ditempuh bersama-sama.
Dan ditutup dengan rasa syukur.
Semoga Muktamar ke-35 NU menghasilkan keputusan terbaik bagi jam'iyah, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Semoga NU semakin kokoh dalam menjaga tradisi, semakin luas dalam memberikan manfaat, dan semakin kuat dalam menjalankan khidmah untuk agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari Takerharjo kami datang.
Dengan ziarah kami mengawali perjalanan.
Dengan kebersamaan kami melangkahkan kaki.
Dengan khidmah kami hadir di Tambakberas.
Dan dengan syukur kami membawa pulang kenangan.
NU untuk umat.
NU untuk bangsa.
NU untuk kemaslahatan.
اللَّهُمَّ احْفَظْ نَهْضَةَ الْعُلَمَاءِ، وَبَارِكْ فِي عُلَمَائِنَا وَمَشَايِخِنَا، وَاحْفَظْ إِنْدُونِيْسِيَا وَأَهْلَهَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَفِتْنَةٍ.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.